Artikel

COVID 2019

Penyakit koronavirus 2019 (bahasa Inggriscoronavirus disease 2019, disingkat COVID-19)[7][8] adalah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, salah satu jenis koronavirus.[9][10] Penyakit ini mengakibatkan pandemi koronavirus 2019–2020.[11][12] Penderita COVID-19 dapat mengalami demam, batuk kering, dan kesulitan bernapas.[6][13][14] Sakit tenggorokan, pilek, atau bersin-bersin lebih jarang ditemukan.[15] Pada penderita yang paling rentan, penyakit ini dapat berujung pada pneumonia dan kegagalan multiorgan.[11][12]

Infeksi menyebar dari satu orang ke orang lain melalui percikan (droplet) dari saluran pernapasan yang sering dihasilkan saat batuk atau bersin.[12][16] Waktu dari paparan virus hingga timbulnya gejala klinis berkisar antara 1–14 hari dengan rata-rata 5 hari.[12][17][18][19] Metode standar diagnosis adalah uji reaksi berantai polimerase transkripsi-balik (rRT-PCR) dari usap nasofaring atau sampel dahak dengan hasil dalam beberapa jam hingga 2 hari. Pemeriksaan antibodi dari sampel serum darah juga dapat digunakan dengan hasil dalam beberapa hari.[20] Infeksi juga dapat didiagnosis dari kombinasi gejala, faktor risiko, dan pemindaian tomografi terkomputasi pada dada yang menunjukkan gejala pneumonia.[21][22]

Mencuci tangan, menjaga jarak dari orang yang batuk, dan tidak menyentuh wajah dengan tangan yang tidak bersih adalah langkah yang disarankan untuk mencegah penyakit ini.[23] Disarankan untuk menutup hidung dan mulut dengan tisu atau siku yang tertekuk ketika batuk.[23] Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merekomendasikan kepada orang-orang yang menduga bahwa mereka telah terinfeksi untuk memakai masker bedah dan mencari nasihat medis dengan memanggil dokter dan tidak langsung mengunjungi klinik. Masker juga direkomendasikan bagi mereka yang merawat seseorang yang diduga terinfeksi tetapi tidak untuk digunakan masyarakat umum.[24][23] Belum ada vaksin atau obat antivirus khusus untuk COVID-19; tata laksana yang diberikan meliputi pengobatan terhadap gejala, perawatan suportif, dan tindakan eksperimental.[25] Angka fatalitas kasus diperkirakan antara 1–3%.[26][27]

Tanda dan gejala

Gejala-gejala COVID-19.
Gejala Persentase
Demam 87,9%
Batuk kering 67,7%
Keletihan 38,1%
Produksi dahak 33,4%
Sesak napas 18,6%
Nyeri otot atau nyeri sendi 14,8%
Sakit tenggorokan 13,9%
Sakit kepala 13,6%
Menggigil 11,4%
Mual atau muntah 5%
Kongesti hidung 4,8%
Diare 3,7%
Batuk darah 0,9%
Kongesti konjungtiva 0,8%

Orang-orang yang terinfeksi mungkin bersifat asimtomatik atau memiliki gejala ringan, seperti demam, batuk, dan kesulitan bernapas.[6][13][14] Gejala diare atau infeksi saluran napas atas (misalnya bersin, pilek, dan sakit tenggorokan) lebih jarang ditemukan.[15] Kasus dapat berkembang menjadi pneumonia berat, kegagalan multiorgan, dan kematian.[11][12]

Masa inkubasi diperkirakan antara 1–14 hari oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)[12] dan 2–14 hari oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).[17] Tinjauan WHO terhadap 55.924 kasus terkonfirmasi di Tiongkok mengindikasikan tanda dan gejala klinis berikut:[28]

Jalur penyakit dan komplikasi

Ada tiga jalur utama yang mungkin ditempuh penyakit ini. Pertama, penyakit mungkin berbentuk ringan yang menyerupai penyakit pernapasan atas umum lainnya. Jalur kedua mengarah ke pneumonia, yaitu infeksi pada sistem pernapasan bawah. Jalur ketiga, yang paling parah, adalah perkembangan cepat ke sindrom gangguan pernapasan akut (acute respiratory distress syndrome atau ARDS).[29]

Usia yang lebih tua, nilai d-dimer lebih besar dari 1 μg/mL, dan nilai SOFA yang tinggi (skala penilaian klinis yang menilai berbagai organ seperti paru-paru, ginjal, dsb.) diasosiasikan dengan prognosis terburuk. Begitu pula dengan peningkatan level interleukin-6 dalam darah, troponin I jantung sensitivitas tinggi, dehidrogenase laktat, dan limfopenia dikaitkan dengan kondisi penyakit yang lebih parah. Komplikasi COVID-19 adalah sepsis, serta komplikasi jantung seperti gagal jantung dan aritmia. Orang dengan gangguan jantung lebih berisiko mengalami komplikasi jantung. Juga, keadaan hiperkoagulopati tercatat pada 90% penderita pneumonia.[30]

Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2 atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2). Virus ini menyebar melalui percikan (droplets) dari saluran pernapasan yang dikeluarkan saat sedang batuk atau bersin.[31]

Paru-paru adalah organ yang paling terpengaruh oleh penyakit ini karena virus memasuki sel inangnya lewat enzim pengubah angiotensin 2 (angiotensin converting enzyme 2 atau ACE2), yang paling banyak ditemukan di dalam sel alveolar tipe II paru. SARS-CoV-2 menggunakan permukaan permukaan sel khususnya yang mengandung glikoprotein yang disebut "spike" untuk berhubungan dengan ACE2 dan memasuki sel inang.[32] Berat jenis ACE2 pada setiap jaringan berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit. Diduga, bahwa penurunan aktivitas ACE2 memberikan perlindungan terhadap sel inang karena ekspresi ACE2 yang berlebihan akan menyebabkan infeksi dan replikasi SARS-CoV-2.[33][34] Beberapa penelitian, melalui sudut pandang yang berbeda juga menunjukkan bahwa peningkatan ekspresi ACE2 oleh golongan obat penghambat reseptor angiotensin II akan melindungi sel inang. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang hal ini.[35] ACE2 juga merupakan jalur bagi virus SARS-CoV-2 untuk menyebabkan kerusakan jantung, karenanya penderita dengan riwayat penyakit jantung memiliki prognosis yang paling jelek.[36]

Diagnosis

Kit uji laboratorium CDC untuk COVID-19[37]

WHO telah menerbitkan beberapa protokol pengujian untuk penyakit ini.[38][39] Pengujian menggunakan reaksi berantai polimerase transkripsi-balik secara waktu nyata (rRT-PCR).[40] Spesimen untuk pengujian dapat berupa usap pernapasan atau sampel dahak.[41] Pada umumnya, hasil pengujian dapat diketahui dalam beberapa jam hingga 2 hari.[42][43] Ilmuwan Tiongkok telah mengisolasi galur koronavirus dan menerbitkan sekuens genetika sehingga laboratorium di seluruh dunia dapat mengembangkan uji PCR secara independen untuk mendeteksi infeksi oleh virus.[11][44][45][46]

Pedoman diagnostik yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Zhongnan dari Universitas Wuhan mengusulkan metode untuk mendeteksi infeksi berdasarkan fitur klinis dan risiko epidemiologis. Pedoman ini melibatkan mengidentifikasi pasien yang memiliki setidaknya dua gejala berikut selain riwayat perjalanan ke Wuhan atau kontak dengan pasien lain yang terinfeksi: demam, gambaran pencitraan pneumonia, jumlah sel darah putih normal atau berkurang, atau berkurangnya jumlah limfosit.[47]


Data Kasus Korona di Indonesia

Statistik

Kecamatan20
Desa266
Kelurahan20
PENGUNJUNG
HARI INI28
MINGGU INI301
BULAN INI744
TOTAL PENGUNJUNG92967

Terbaru

Pelatihan Penyelenggaraan Perpustakaan Desa dan / atau Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten Kendal Tahun 2020
2020-11-16 15:19:21 / 41 Views

Dalam rangka menggalakkan minat baca masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Kendal menyelenggarakan Pelatihan Penyelenggaraan Perpustakaan Desa dan / atau Taman Bacaan Masy [more]

Kunjungan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Provinsi Jawa Tengah sehubungan persoalan tanah warga terkait Kawasan Industri Kendal
2020-10-19 07:52:44 / 34 Views

Kawasan Industri Kendal (KIK) yang merupakan kerjasama Pemerintah Indonesia dan Singapura dicap telah mencaplok tanah desa (bondo deso). Pasalnya, walau sudah dibangun sampai saat ini proses ganti lah [more]

Sinergitas TNI Polri dan masyarakat terus berlangsung di lokasi TMMD Kodim Kendal
2020-10-14 10:12:45 / 35 Views

Pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) reguler ke-109 Kodim 0715/Kendal yang berlokasi di Desa Sendangkulon, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal terus dikebut. Utamanya di sasaran fisik beru [more]

Distribusi Bansos Provinsi Jateng s.d Tahap III
2020-09-18 18:36:24 / 42 Views

Proses distribusi Bantuan Sosial (Bansos) Provinsi Jawa Tengah s.d tahap ketiga untuk 63.231 penerima di Kabupaten Kendal telah mencapai hampir 100 persen.Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa [more]

PELATIHAN APLIKASI eDMC-19 BAGI SEKDES DAN eHDW BAGI KPM DI KABUPATEN KENDAL
2020-09-01 09:12:24 / 47 Views

Tenaga Pendamping Pemberdayaan (TDP) dan Tenaga Pendamping Lokal Desa (PLD) se Kabupaten Kendal bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Kendal menggelar pelatihan eDMC-19 bagi Sekdes [more]

Terpopuler

DINAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA
2019-04-26 10:39:54 / 1232 Views

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Kendal, merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan di bidang pemberdayaan masyarakat dan desa yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Kendal, m [more]

SEKRETARIAT
2017-07-15 21:22:21 / 1227 Views

DINAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA TUGAS Sekretariat mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Kepala Dinas dalam perumusan kebijakan teknis, pengoordinasian, pembinaan, pengawasan, pengendali [more]

BIDANG II
2017-07-15 21:22:21 / 1088 Views

BIDANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA TUGAS Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Kepala Dinas dalam perumusan kebijakan teknis, pengoordinasian, p [more]

BIDANG I
2017-07-09 20:26:07 / 910 Views

BIDANG PEMBANGUNAN DESA TUGAS Kepala Bidang Pembangunan Desa mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Kepala Dinas dalam perumusan kebijakan teknis, pengoordinasian, pembinaan, pengawasan, pe [more]

BIDANG III
2017-07-15 23:28:25 / 859 Views

BIDANG PEMERINTAHAN DESA TUGAS Kepala Bidang Pemerintahan Desa mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Kepala Dinas dalam perumusan kebijakan teknis, pengoordinasian, pembinaan, pengawasan, [more]