Artikel

Prosesi Ruwatan Nagari Keraton Amarta Bumi Desa Margosari Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal


Sejumlah warga mengikuti prosesi tradisi ruwatan dalam acara 'Gedong Songo Royal Culture' di kompleks Candi Gedong Songo, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Tradisi yang bertajuk Ruwatan Nagari Sudamala tersebut bertujuan mendoakan ketentraman dan perdamaian Negara Kesatuan Republik Indoesia (NKRI) sekaligus sebagai upaya pelestarian adat budaya tradisi lokal.

Raja Karaton Kawiwitan Amarta Bumi, Sri Anglung Prabu Punta Jaya Negara Candra Buana Giri Nata kembali menggelar Ruwatan Nagari di Candi 1 Komplek Candi Gedongsongo Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang

Keraton Kawitan Amarta Bumi Jl Sunan Katon 99 Margosari, Limbangan Kendal, sudah menggelar Budaya Segara Gunung VII pada tanggal 6-8 Desember 2019 kemarin. Gelar budaya rutin setahun sekali yang sudah memasuki tahun ketujuh ini akan mengetengahkan berbagai lomba kesenian tradisional.
Pemangku Keraton Kawitan Amarta Bumi, Sri Prabu Anglung Punto Joyonegoro Cokrobuwono Girinoto mengatakan Rangkaian Acara Gelar Budaya Segara Gunung VII, ada 3 macam kesenian yang di gelar, yakni lomba Tembang Macapat dan Geguritan, Ruwatan Nagari di Candi Gedongsongo, Ungaran dan Pemberian Pikukuh di Joglo Saridin (Keraton Amarta Bumi) serta Pagelaran Tari Rakyat Segara Gunung VII di Palagan (Keraton Amarta Bumi) juga Bazaar.
Raja Karaton Kawiwitan Amarta Bumi, Sri Anglung Prabu Punta Jaya Negara Candra Buana Giri Nata kembali menggelar Ruwatan Nagari.
Acara yang digelar di Komplek Candi Gedongsongo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, hari Sabtu, 7 Desember 2019 siang.
Gelaran tersebut menampilkan pertunjukan berbagai kerajaan di Nusantara.
Acara cukup sederhana. Semua hadirin duduk di atas tikar. Ruwatan Nagari telah menjadi agenda tahunan sejak 2017. Dilaksanakan setiap bulan Desember.
"Ruwatan Nagari merupakan upaya untuk merawat negara," ujarnya seusai acara.
Sri Anglung menjelaskan nagari merupakan asal kata dari negara.
Negara itu dari Bahasa Sansekertanya berasal dari uger-uger, ugaran, paugeran.
Menurutnya paugeran merupakan tata nilai yang luhur dalam menjalankan sebuah negara. Sehingga fungsi dari sebuah negara ada tujuannya, yakni dharmaning nagari. Melalui dharmaning nagari, para penyelenggara negara melakukan dharma.
"Sehingga harapannya dengan prosesi ini ditegakkan paugeran atau nilai-nilai luhur. "Yang menjadi pedoman hidup bersama terutama oleh para penyelenggara negara dan diikuti oleh rakyatnya," terang Sri Anglung Prabu Punta Jaya Negara Candra Buana Giri Nata.


Sri Anglung menjelaskan tujuan utama penyelenggaraan acara ini, adalah:
Pihaknya yakin karena prosesi ini hubungannya dengan makrokosmos. Menurut yang ia yakni, manusia merupakan makhluk mikrokosmos. Sedangkan jagad raya merupakan makrokosmos. Sehingga akan terjadi keseimbangan antara mikro dan makrokosmos. Termasuk juga keseimbangan antara bumi dengan langit, antara siang dengan malam.
Secara simbolis, dilakukan pula pelepasan burung dara. Sebagai simbol ketulusan dan kedamaian. Pelepasan burung dara dalam tradisi Jawa dikenal dara muluk. Dara muluk merupakan burung dara yang terlepaskan dari penderitaan, kesengsaraan, dan segala halangan.
"Sehingga negara akan maju, rakyat akan sejahtera, para penyelenggara dan pemimpinnya akan arif bijaksana sehingga negara sebagai nagara dharma akan terwujudkan".
Acara ini melibatkan komunitas dari mancanegara. Yang meliputi Tiongkok, Perancis, Belanda, Portugis, dan Singapura.
Turut bergabung pula Kabupaten Pamekasan yang menampilkan Tari Dewaruci.
Ada pula tamu undangan dari Bali, Sulawesi Selatan, Kesultanan Indrapura Sumatera Selatan, Kesultanan Sukapura Tasikmalaya, Panjalu, dan ada utusan dari daerah-daerah.